5 Langkah Mudah Menyusun dan Mensosialisasikan Visi Perusahaan

Konsep dari visi ini kelihatannya mudah untuk dibuat, tapi pada kenyataannya banyak yang berakhir dengan sia-sia. Jadi bagaimana caranya supaya efektif?

Founder Tanibox OÜ; Product Strategist di Chloè & Matt.

Visi perusahaan didefinisikan sebagai keadaan atau tujuan akhir, yang biasanya terikat pada saat atau waktu tertentu, untuk sebuah perusahaan. Pendeknya, kita bisa melihat visi perusahaan secara nyata, misalnya dalam kurun waktu 10 tahun. Ada juga yang memandang visi sebagai untuk menjadi, bukan sebagai sebagaimana adanya.

Beberapa orang percaya bahwa visi bersama dalam perusahaan adalah salah satu komponen strategi yang paling penting. Ketika orang-orang di dalam perusahaan tahu visi si perusahaan dan percaya pada visi itu, mereka akan bersedia untuk menyelaraskan diri dan berkomitmen pada visi tersebut. Mereka bisa bekerja secara mandiri sesuai dengan inisiatifnya, dan mereka melakukannya karena percaya bahwa apa yang mereka lakukan adalah investasi terbaik dari waktu dan tenaga yang mereka punya. Dan mereka yakin bahwa investasi tersebut akan membuahkan hasil terbaik.

Konsep dari visi ini sebenarnya kelihatannya mudah untuk dibuat, bukan? Di beberapa kasus, mungkin cukup mudah untuk dibuat, tapi pada kenyataannya, banyak yang berakhir dengan buang-buang waktu dan tenaga, tapi berakhir sia-sia.

Baca juga: 10 Pernyataan Visi dan Misi Perusahaan yang Inspiratif

Permasalahannya sebenarnya terletak pada bagaimana cara sosialisasi visi tersebut sehingga dapat diterima oleh seluruh sendi-sendi perusahaan dan menjadi kekuatan tersendiri yang mendorong mereka untuk melakukan tindakan. Banyak organisasi/perusahaan yang menemukan fakta bahwa semakin jauh seseorang dari “lingkaran kepemimpinan” di organisasi tersebut, maka orang tersebut akan semakin tidak mengenal visi si perusahaan. Nah, jika para pegawaimu saja tidak mengenal visi perusahaanmu, sebagai pemimpin, bagaimana kamu memastikan agar mereka dapat memahami visi perusahaan dan bertindak selaras dengan visi tersebut?

Kerangka Sosialisasi Visi dalam Manajerial Perusahaan

Sosialisasi adalah kata-kata yang tepat untuk proses komunikasi visi yang harus dilakukan dalam mengelola perusahaan. Berdasarkan pada penyederhanaan posisi otoritas (pimpinan/bos) dan anggota tim yang akan melakukan pekerjaan yang selaras dengan visi perusahaan. Dalam menyosialisasikan visi ke seluruh pemangku kepentingan dalam sebuah perusahaan, ada 5 taktik yang bisa dilakukan, yaitu:

1. Menceritakan

Pimpinan tahu visi perusahaan akan seperti apa, menyusunnya sendiri, dan kemudian menceritakan pada seluruh pemangku kepentingan perusahaan—investor, tim manajemen, pegawai, vendor, pelanggan, dan lainnya.

2. Menjual

Pimpinan tahu visi perusahaan seperti apa, tetapi ia perlu agar semua orang mau “membeli” alias mempercayai betul-betul visi tersebut. Pimpinan akan menggunakan kata-kata yang dirangkai dengan sebaik mungkin untuk membujuk audiensnya, namun anggota tim punya kendali untuk memercayai dan mendukung visi tersebut atau tidak.

3. Menguji

Pimpinan punya ide visi perusahaan akan seperti apa, tetapi ia ingin tahu reaksi dari pada pemangku kepentingan sebelum melanjutkannya. Contoh-contoh pin dari visi-visi ini sudah disusun, dan anggota tim memberikan umpan balik pada setiap poin.

4. Berkonsultasi

Pimpinan menginginkan masukan yang konstruktif dan kreatif sebelum melanjutkan ke finalisasi. Disini, ia akan menggunakan pertanyaan terbuka untuk mencari insight dari anggota tim.

5. Menciptakan Bersama

Pimpinan dan anggota tim mengembangkan visi berdasarkan nilai-nilai dan aspirasi dasar yang mereka junjung tinggi. Jadi, nilai-nilai dan misi dari setiap orang dikumpulkan bersamaan dan diproses, kemudian visinya akan muncul seiring dengan bersatunya individu-individu pada nilai yang paling bermakna buat mereka secara pribadi.


Perhatikan pola kerangka di atas: taktik yang ada di bagian atas memerlukan waktu penyusunan yang lebih sedikit, tetapi biasanya menghasilkan komitmen yang kecil dari anggota tim. Taktik yang ada di bagian bawah menciptakan komitmen yang besar, namun membutuhkan sumber daya yang tidak sedikit untuk mengembangkan, menyosialisasikan, dan memperbarui visi.

Pimpinan di level strategis harus memeriksa hal-hal apa saja yang perlu “dikorbankan”. Pengembangan visi adalah kerja keras, komunikasi visi memakan waktu tidak sedikit, menyelaraskan visi bisa menimbulkan konflik, dan tiap orang memiliki kecepatan adopsi visi yang berbeda-beda.

Misalnya, menceritakan visi itu bisa dilakukan dengan sangat cepat. Pimpinan menyusun visi-visi perusahaan, menyampaikannya pada anggota tim, dan anggota tim hanya bisa menerimanya. Kelemahannya ada dua kali lipat. Keberhasilan visi hanya bergantung pada kepatuhan anggota tim dan pimpinan, dimana berarti upaya penegakannya harus dilakukan. Visi juga dapat disalahpahami, dan anggota tim bisa dengan mudah mengabaikan kemungkinan-kemungkinan yang berbeda namun dapat menambah nilai mereka.

Di sisi berlainan, dengan menciptakan visi bersama-sama akan mendatangkan dukungan yang lebih banyak karena anggota tim ikut berpartisipasi dalam menyusun visi perusahaan, tetapi waktu berdiskusi yang digunakan akan lebih banyak untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan perbedaan, sembari membangun konsensus.

Bagaimana denganmu? Apakah kamu pernah melihat sosialisasi visi perusahaan yang efektif?

Sampai disini, semoga kamu paham, ya! Jika tidak, kamu bisa bergabung di komunitas Telegram kami dan bertanya lebih lanjut. Semoga sukses!

5 Langkah Mudah Menyusun dan Mensosialisasikan Visi Perusahaan

Founder Tanibox OÜ; Product Strategist di Chloè & Matt.

Konsep dari visi ini kelihatannya mudah untuk dibuat, tapi pada kenyataannya banyak yang berakhir dengan sia-sia. Jadi bagaimana caranya supaya efektif?

Visi perusahaan didefinisikan sebagai keadaan atau tujuan akhir, yang biasanya terikat pada saat atau waktu tertentu, untuk sebuah perusahaan. Pendeknya, kita bisa melihat visi perusahaan secara nyata, misalnya dalam kurun waktu 10 tahun. Ada juga yang memandang visi sebagai untuk menjadi, bukan sebagai sebagaimana adanya.

Beberapa orang percaya bahwa visi bersama dalam perusahaan adalah salah satu komponen strategi yang paling penting. Ketika orang-orang di dalam perusahaan tahu visi si perusahaan dan percaya pada visi itu, mereka akan bersedia untuk menyelaraskan diri dan berkomitmen pada visi tersebut. Mereka bisa bekerja secara mandiri sesuai dengan inisiatifnya, dan mereka melakukannya karena percaya bahwa apa yang mereka lakukan adalah investasi terbaik dari waktu dan tenaga yang mereka punya. Dan mereka yakin bahwa investasi tersebut akan membuahkan hasil terbaik.

Konsep dari visi ini sebenarnya kelihatannya mudah untuk dibuat, bukan? Di beberapa kasus, mungkin cukup mudah untuk dibuat, tapi pada kenyataannya, banyak yang berakhir dengan buang-buang waktu dan tenaga, tapi berakhir sia-sia.

Baca juga: 10 Pernyataan Visi dan Misi Perusahaan yang Inspiratif

Permasalahannya sebenarnya terletak pada bagaimana cara sosialisasi visi tersebut sehingga dapat diterima oleh seluruh sendi-sendi perusahaan dan menjadi kekuatan tersendiri yang mendorong mereka untuk melakukan tindakan. Banyak organisasi/perusahaan yang menemukan fakta bahwa semakin jauh seseorang dari “lingkaran kepemimpinan” di organisasi tersebut, maka orang tersebut akan semakin tidak mengenal visi si perusahaan. Nah, jika para pegawaimu saja tidak mengenal visi perusahaanmu, sebagai pemimpin, bagaimana kamu memastikan agar mereka dapat memahami visi perusahaan dan bertindak selaras dengan visi tersebut?

Kerangka Sosialisasi Visi dalam Manajerial Perusahaan

Sosialisasi adalah kata-kata yang tepat untuk proses komunikasi visi yang harus dilakukan dalam mengelola perusahaan. Berdasarkan pada penyederhanaan posisi otoritas (pimpinan/bos) dan anggota tim yang akan melakukan pekerjaan yang selaras dengan visi perusahaan. Dalam menyosialisasikan visi ke seluruh pemangku kepentingan dalam sebuah perusahaan, ada 5 taktik yang bisa dilakukan, yaitu:

1. Menceritakan

Pimpinan tahu visi perusahaan akan seperti apa, menyusunnya sendiri, dan kemudian menceritakan pada seluruh pemangku kepentingan perusahaan—investor, tim manajemen, pegawai, vendor, pelanggan, dan lainnya.

2. Menjual

Pimpinan tahu visi perusahaan seperti apa, tetapi ia perlu agar semua orang mau “membeli” alias mempercayai betul-betul visi tersebut. Pimpinan akan menggunakan kata-kata yang dirangkai dengan sebaik mungkin untuk membujuk audiensnya, namun anggota tim punya kendali untuk memercayai dan mendukung visi tersebut atau tidak.

3. Menguji

Pimpinan punya ide visi perusahaan akan seperti apa, tetapi ia ingin tahu reaksi dari pada pemangku kepentingan sebelum melanjutkannya. Contoh-contoh pin dari visi-visi ini sudah disusun, dan anggota tim memberikan umpan balik pada setiap poin.

4. Berkonsultasi

Pimpinan menginginkan masukan yang konstruktif dan kreatif sebelum melanjutkan ke finalisasi. Disini, ia akan menggunakan pertanyaan terbuka untuk mencari insight dari anggota tim.

5. Menciptakan Bersama

Pimpinan dan anggota tim mengembangkan visi berdasarkan nilai-nilai dan aspirasi dasar yang mereka junjung tinggi. Jadi, nilai-nilai dan misi dari setiap orang dikumpulkan bersamaan dan diproses, kemudian visinya akan muncul seiring dengan bersatunya individu-individu pada nilai yang paling bermakna buat mereka secara pribadi.


Perhatikan pola kerangka di atas: taktik yang ada di bagian atas memerlukan waktu penyusunan yang lebih sedikit, tetapi biasanya menghasilkan komitmen yang kecil dari anggota tim. Taktik yang ada di bagian bawah menciptakan komitmen yang besar, namun membutuhkan sumber daya yang tidak sedikit untuk mengembangkan, menyosialisasikan, dan memperbarui visi.

Pimpinan di level strategis harus memeriksa hal-hal apa saja yang perlu “dikorbankan”. Pengembangan visi adalah kerja keras, komunikasi visi memakan waktu tidak sedikit, menyelaraskan visi bisa menimbulkan konflik, dan tiap orang memiliki kecepatan adopsi visi yang berbeda-beda.

Misalnya, menceritakan visi itu bisa dilakukan dengan sangat cepat. Pimpinan menyusun visi-visi perusahaan, menyampaikannya pada anggota tim, dan anggota tim hanya bisa menerimanya. Kelemahannya ada dua kali lipat. Keberhasilan visi hanya bergantung pada kepatuhan anggota tim dan pimpinan, dimana berarti upaya penegakannya harus dilakukan. Visi juga dapat disalahpahami, dan anggota tim bisa dengan mudah mengabaikan kemungkinan-kemungkinan yang berbeda namun dapat menambah nilai mereka.

Di sisi berlainan, dengan menciptakan visi bersama-sama akan mendatangkan dukungan yang lebih banyak karena anggota tim ikut berpartisipasi dalam menyusun visi perusahaan, tetapi waktu berdiskusi yang digunakan akan lebih banyak untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan perbedaan, sembari membangun konsensus.

Bagaimana denganmu? Apakah kamu pernah melihat sosialisasi visi perusahaan yang efektif?

Sampai disini, semoga kamu paham, ya! Jika tidak, kamu bisa bergabung di komunitas Telegram kami dan bertanya lebih lanjut. Semoga sukses!