Growth Rate: Hidup dan Mati Startup yang Kamu Bangun

Hal mendasar yang perlu kamu perhatikan dalam membangun perusahaan; terutama startup. Apa itu growth rate dan kenapa harus memperhatikannya?

Founder Tanibox OÜ; Product Strategist di Chloè & Matt.

Hal mendasar yang perlu kamu perhatikan dengan sangat seksama jika kamu membangun startup adalah growth alias pertumbuhan. Hal lain yang berhubungan dengan startup pun juga tidak akan jauh-jauh dari growth. Jika kamu ingin membangun startup, jangan pernah lepaskan perhatianmu darinya agar kamu bisa sukses. Itulah mengapa membangun sebuah startup itu sangatlah sulit. Bahkan di negara yang paling banyak memiliki startup yaitu Amerika Serikat pun, bisa dibilang, tingkat kegagalannya lebih dari 90% (menurut data dan riset dari CB Insights).

Ideasi Startup

DNA sebuah startup jauh berbeda sejak awal inisiasi. Agar sebuah perusahaan tumbuh dengan sangat cepat, ia harus:

  1. Membuat sebuah produk / layanan yang dibutuhkan (amat sangat) banyak orang; dan
  2. Menjangkau dan melayani orang-orang tersebut.

Kalau kamu membangun bisnis berupa salon rambut, kamu sudah bisa memenuhi syarat no. 1, karena hampir semua wanita butuh layanan potong rambut dengan model terkini, ‘kan? Permasalahan yang akan kamu hadapi adalah no. 2. Salon rambut memiliki pegawai yang hanya dapat melayani pelanggan yang datang ke lokasi bisnisnya. Atau, mengirimkan pegawai ke lokasi pelanggan, jika memang memiliki layanan tersebut. Tapi tetap saja, satu orang pegawai hanya dapat menangani satu pelanggan di waktu yang sama. Jika kamu ingin dapat melayani dua ribu pelanggan dalam satu waktu, berarti kamu harus siap mempekerjakan dua ribu (++) pegawai. Tidak mungkin, bukan?

Membuat perangkat lunak atau aplikasi mungkin bisa menjadi solusi untuk no. 2, tapi bisa jadi kamu tetap akan tertahan di no. 1. Misalnya saja, kamu membuat aplikasi belajar bahasa Jawa untuk orang Indonesia. Kamu mungkin tetap bisa menjangkau banyak orang, namun tidak sebanyak yang bisa diharapkan untuk menuai profit dan dampak yang signifikan. Beda ceritanya jika kamu membuat aplikasi belajar bahasa Jawa untuk orang yang berbahasa Inggris—karena tentunya jauh lebih banyak penutur Inggris dibandingkan Indonesia.

Kebanyakan bisnis akan terhambat pada no. 1 atau no. 2. Sedangkan startup, tidak memiliki hembatan di kedua bagian itu.

Growth Rate

“Seberapa cepat sebuah perusahaan harus tumbuh untuk bisa dikategorikan sebagai startup?

Sebenarnya tidak ada jawaban yang pasti untuk pertanyaan ini. Seorang pendiri startup harus melihat istilah ini sebagai kutub, bukan sekedar ambang batas. Dengan membangun startup, kamu tidak hanya berkomitmen untuk membangun sebuah perusahaan, tetapi perusahaan yang bergerak dengan sangat cepat, yang tentunya kamu harus menemukan ide yang sangat langka terlebih dahulu. Dan di awal-awal, yang kamu miliki ya hanyalah komitmen itu.

Jadi, pertanyaan yang tepat sebenarnya bukan “Seberapa cepat sebuah perusahaan harus tumbuh untuk bisa dikategorikan sebagai startup?” melainkan “Berapa rerata kecepatan tumbuh atau growth rate yang dimiliki oleh startup yang sukses?”. Sebagai wirausahawati, pertanyaan seperti ini juga sama artinya dengan mempertanyakan apakah kalian sudah ada di jalur yang benar atau belum.

Pertumbuhan yang dimiliki oleh startup yang sukses akan terdiri dari tiga fase, yaitu:

  1. Periode awal dimana pertumbuhan startup akan terjadi dengan sangat pelan, atau malah tidak tumbuh sama sekali, dan kamu masih harus jungkir-balik untuk mencari tahu apa yang bisa startup-mu lakukan.
  2. Periode pertumbuhan yang cepat (rapid), dimana startup-mu mulai menemukan posisi yang tepat di pasar dan bisa memenuhi kebutuhan / keinginan banyak sekali orang.
  3. Pada akhirnya, startup ini akan tumbuh menjadi perusahaan besar, dan pertumbuhan akan melambat. Biasanya dikarenakan karena perusahaan memiliki keterbatasan internal, atau ia sedang mencoba untuk menyasar target pasar yang lebih besar.

Tiga fase ini membentuk kurva S, dimana pertumbuhan startup ditentukan oleh kurva yang mendaki. Sedangkan panjangnya dan kemiringannya akan menentukan seberapa besar ukuran perusahaan ini. Jika sudah melalui fase Growth, biasanya akan terjadi perlambatan kecepatan tumbuh, sehingga kurvanya akan mulai mendatar lagi.

<em>Growth Rate</em>: Hidup dan Mati Startup yang Kamu Bangun 1
Fase-fase pertumbuhan startup

Kurva yang miring (mendaki atau menurun), adalah tingkat pertumbuhan (growth) perusahaan. Itu adalah bagian yang harus kamu perhatikan terus-menerus sebagai pendiri perusahaan. Perhatikan bentuknya, dan yang terutama adalah angkanya (biasanya berupa persentase). Jika kamu sampai tidak tahu berapa angka yang ada di bagian tersebut, kamu tidak akan tahu kondisi perusahaanmu—apakah baik-baik saja atau sebaliknya.

Jika kamu ditanya “Berapa growth rate (rerata kecepatan tumbuh) mu saat ini?” oleh seorang investor dan kamu menjawab “Saya punya 500 pelanggan baru setiap minggu,” percayalah, mereka akan yakin kalau kamu tidak tahu apa-apa soal membangun sebuah startup. Kenapa? Itu bukan growth rate. Yang terpenting adalah bukan berapa angka pasti dari pelanggan yang kamu dapat, tetapi rasio pelanggan baru dengan pelanggan lama. Kalau kamu punya angka pasti berapa pelanggan yang kamu dapatkan setiap bulan, itu artinya kamu dalam masalah besar, karena itu artinya growth rate perusahaanmu menurun, bukan naik.

Cara terbaik mengukur growth rate adalah dengan melihat pemasukan (revenue). Jika kamu memiliki model bisnis yang tidak langsung memungut biaya dari pelanggan, kamu bisa melihat pertumbuhan melalui pengguna aktif (active users). Itu adalah cara yang masuk akal dilakukan dengan model bisnis seperti itu, karena disaat kamu mulai memungut biaya dari pelanggan, pemasukan yang akan kamu dapatkan sebanding dengan tingkat pertumbuhan pengguna aktifmu.

Penunjuk Arah

Sebagai pendiri startup, kamu bisa menggunakan growth rate itu sebagai penunjuk arah. Anggap ia adalah kompas yang bisa membantumu berjalan di arah yang tepat agar bisa sampai di tujuan. Ia akan memandumu mengambil semua keputusan dalam bisnis—apapun yang kamu perlukan agar bisa mencapai growth rate yang sesuai. Apakah saya harus ikut konferensi 2-3 hari? Apakah saya harus menambah pemrogram? Apakah saya harus lebih fokus pada pemasaran? Cara pemasaran apa yang bisa dilakukan? Pokoknya lakukan apapun yang harus kamu lakukan untuk mencapai target growth rate ini.

Untuk menentukan target pun, mulai dengan angka yang tidak muluk-muluk. Misalnya, 20-25% per bulan. Menilai performa diri sendiri dengan target bulanan seperti ini pun bukan berarti kamu tidak boleh melihat lebih dari satu bulan ke depan. Misalnya ada satu bulan dimana kamu gagal mencapai target, kamu akan tertarik untuk mencari tahu hal-hal apa yang bisa menghindarkanmu dari rasa kecewa dan sedih karena gagal mencapai target di masa depan. Jadi, pemikiranmu dapat lebih terbuka untuk melakukan berbagai opsi yang bisa membantumu mencapai target.

Misalnya dengan mempekerjakan pemrogram untuk membantumu. Ia mungkin tidak akan langsung dapat membantumu mencapai target bulan berikutnya, namun ia dapat mengurangi load pekerjaanmu untuk menambah fitur-fitur baru di produkmu, yang pada akhirnya dapat meningkatkan pengguna di masa depan. Tetapi kamu perlu memperhatikan dua hal:

  1. Distraksi dari proses mencari pegawai tidak akan membuatmu gagal mencapai target di jangka pendek; dan
  2. Kamu terus-terusan khawatir apakah kamu tidak bisa mencapai target jika kamu tidak bisa mempekerjakan seseorang.

Jika ini terjadi padamu, kamu mungkin bisa mempertimbangkan untuk menggunakan penyedia jasa pencari tenaga kerja yang sesuai dengan preferensi dan kebutuhanmu. Saat ini sudah ada cukup banyak jasa seperti ini di Indonesia.

Pemahaman Mendalam

Jika kamu ingin memiliki pemahaman yang mendalam tentang startup, maka yang perlu kamu pahami adalah growth. Ia adalah kekuatan yang mendorong segala sesuatu di dunia ini—tidak hanya startup. Itulah kenapa startup lebih banyak fokus di teknologi, karena ia lebih mudah menjangkau pasar yang besar dengan sangat cepat dibandingkan sektor-sektor yang lain.

Pertumbuhan adalah alasan mengapa mendirikan startup adalah pilihan yang rasional secara ekonomi—karena ia mampu untuk menciptakan perusahaan yang bervaluasi tinggi walaupun resikonya juga tinggi.

Pertumbuhan adalah alasan mengapa banyak startup sukses seperti Atlassian pun tetap mengambil investasi dari pemodal ventura, agar supaya ia dapat memilih tingkat growth rate yang sesuai dalam kondisi yang nyaman (baca: tidak khawatir kehabisan uang saat sedang dalam mode tancap gas).

Dan pertumbuhan jugalah yang menjadi alasan mengapa startup yang sukses hampir selalu mendapatkan penawaran akuisisi. Bagi para pengakuisisi, perusahaan yang tumbuh dengan sangat cepat itu tidak hanya berharga, namun juga berbahaya. Sehingga, ada dua kemungkinan alasan akuisisi ini dilakukan:

  1. Integrasi ke perusahaan pengakuisisi agar menjadi semakin besar, dan
  2. Untuk dimatikan sebelum bertambah besar dan jadi pesaing.

Memahami pertumbuhan adalah langkah awal membangun startup yang sukses. Jika kamu belum memahami itu saat sedang membangun startup, kamu belum terlambat. Hal-hal lain yang kamu kerjakan jika tidak ada hubungannya dengan pertumbuhan, harus dikesampingkan. Karena hanya dengan memiliki pertumbuhan yang baik yang dapat mengantarkanmu pada kesuksesan—dan mungkin exit kaya raya. 😂

Semoga sukses!

Sampai disini, semoga kamu paham, ya! Jika tidak, kamu bisa bergabung di komunitas Telegram kami dan bertanya lebih lanjut. Semoga sukses!

Growth Rate: Hidup dan Mati Startup yang Kamu Bangun

Founder Tanibox OÜ; Product Strategist di Chloè & Matt.

Hal mendasar yang perlu kamu perhatikan dalam membangun perusahaan; terutama startup. Apa itu growth rate dan kenapa harus memperhatikannya?

Hal mendasar yang perlu kamu perhatikan dengan sangat seksama jika kamu membangun startup adalah growth alias pertumbuhan. Hal lain yang berhubungan dengan startup pun juga tidak akan jauh-jauh dari growth. Jika kamu ingin membangun startup, jangan pernah lepaskan perhatianmu darinya agar kamu bisa sukses. Itulah mengapa membangun sebuah startup itu sangatlah sulit. Bahkan di negara yang paling banyak memiliki startup yaitu Amerika Serikat pun, bisa dibilang, tingkat kegagalannya lebih dari 90% (menurut data dan riset dari CB Insights).

Ideasi Startup

DNA sebuah startup jauh berbeda sejak awal inisiasi. Agar sebuah perusahaan tumbuh dengan sangat cepat, ia harus:

  1. Membuat sebuah produk / layanan yang dibutuhkan (amat sangat) banyak orang; dan
  2. Menjangkau dan melayani orang-orang tersebut.

Kalau kamu membangun bisnis berupa salon rambut, kamu sudah bisa memenuhi syarat no. 1, karena hampir semua wanita butuh layanan potong rambut dengan model terkini, ‘kan? Permasalahan yang akan kamu hadapi adalah no. 2. Salon rambut memiliki pegawai yang hanya dapat melayani pelanggan yang datang ke lokasi bisnisnya. Atau, mengirimkan pegawai ke lokasi pelanggan, jika memang memiliki layanan tersebut. Tapi tetap saja, satu orang pegawai hanya dapat menangani satu pelanggan di waktu yang sama. Jika kamu ingin dapat melayani dua ribu pelanggan dalam satu waktu, berarti kamu harus siap mempekerjakan dua ribu (++) pegawai. Tidak mungkin, bukan?

Membuat perangkat lunak atau aplikasi mungkin bisa menjadi solusi untuk no. 2, tapi bisa jadi kamu tetap akan tertahan di no. 1. Misalnya saja, kamu membuat aplikasi belajar bahasa Jawa untuk orang Indonesia. Kamu mungkin tetap bisa menjangkau banyak orang, namun tidak sebanyak yang bisa diharapkan untuk menuai profit dan dampak yang signifikan. Beda ceritanya jika kamu membuat aplikasi belajar bahasa Jawa untuk orang yang berbahasa Inggris—karena tentunya jauh lebih banyak penutur Inggris dibandingkan Indonesia.

Kebanyakan bisnis akan terhambat pada no. 1 atau no. 2. Sedangkan startup, tidak memiliki hembatan di kedua bagian itu.

Growth Rate

“Seberapa cepat sebuah perusahaan harus tumbuh untuk bisa dikategorikan sebagai startup?

Sebenarnya tidak ada jawaban yang pasti untuk pertanyaan ini. Seorang pendiri startup harus melihat istilah ini sebagai kutub, bukan sekedar ambang batas. Dengan membangun startup, kamu tidak hanya berkomitmen untuk membangun sebuah perusahaan, tetapi perusahaan yang bergerak dengan sangat cepat, yang tentunya kamu harus menemukan ide yang sangat langka terlebih dahulu. Dan di awal-awal, yang kamu miliki ya hanyalah komitmen itu.

Jadi, pertanyaan yang tepat sebenarnya bukan “Seberapa cepat sebuah perusahaan harus tumbuh untuk bisa dikategorikan sebagai startup?” melainkan “Berapa rerata kecepatan tumbuh atau growth rate yang dimiliki oleh startup yang sukses?”. Sebagai wirausahawati, pertanyaan seperti ini juga sama artinya dengan mempertanyakan apakah kalian sudah ada di jalur yang benar atau belum.

Pertumbuhan yang dimiliki oleh startup yang sukses akan terdiri dari tiga fase, yaitu:

  1. Periode awal dimana pertumbuhan startup akan terjadi dengan sangat pelan, atau malah tidak tumbuh sama sekali, dan kamu masih harus jungkir-balik untuk mencari tahu apa yang bisa startup-mu lakukan.
  2. Periode pertumbuhan yang cepat (rapid), dimana startup-mu mulai menemukan posisi yang tepat di pasar dan bisa memenuhi kebutuhan / keinginan banyak sekali orang.
  3. Pada akhirnya, startup ini akan tumbuh menjadi perusahaan besar, dan pertumbuhan akan melambat. Biasanya dikarenakan karena perusahaan memiliki keterbatasan internal, atau ia sedang mencoba untuk menyasar target pasar yang lebih besar.

Tiga fase ini membentuk kurva S, dimana pertumbuhan startup ditentukan oleh kurva yang mendaki. Sedangkan panjangnya dan kemiringannya akan menentukan seberapa besar ukuran perusahaan ini. Jika sudah melalui fase Growth, biasanya akan terjadi perlambatan kecepatan tumbuh, sehingga kurvanya akan mulai mendatar lagi.

<em>Growth Rate</em>: Hidup dan Mati Startup yang Kamu Bangun 2
Fase-fase pertumbuhan startup

Kurva yang miring (mendaki atau menurun), adalah tingkat pertumbuhan (growth) perusahaan. Itu adalah bagian yang harus kamu perhatikan terus-menerus sebagai pendiri perusahaan. Perhatikan bentuknya, dan yang terutama adalah angkanya (biasanya berupa persentase). Jika kamu sampai tidak tahu berapa angka yang ada di bagian tersebut, kamu tidak akan tahu kondisi perusahaanmu—apakah baik-baik saja atau sebaliknya.

Jika kamu ditanya “Berapa growth rate (rerata kecepatan tumbuh) mu saat ini?” oleh seorang investor dan kamu menjawab “Saya punya 500 pelanggan baru setiap minggu,” percayalah, mereka akan yakin kalau kamu tidak tahu apa-apa soal membangun sebuah startup. Kenapa? Itu bukan growth rate. Yang terpenting adalah bukan berapa angka pasti dari pelanggan yang kamu dapat, tetapi rasio pelanggan baru dengan pelanggan lama. Kalau kamu punya angka pasti berapa pelanggan yang kamu dapatkan setiap bulan, itu artinya kamu dalam masalah besar, karena itu artinya growth rate perusahaanmu menurun, bukan naik.

Cara terbaik mengukur growth rate adalah dengan melihat pemasukan (revenue). Jika kamu memiliki model bisnis yang tidak langsung memungut biaya dari pelanggan, kamu bisa melihat pertumbuhan melalui pengguna aktif (active users). Itu adalah cara yang masuk akal dilakukan dengan model bisnis seperti itu, karena disaat kamu mulai memungut biaya dari pelanggan, pemasukan yang akan kamu dapatkan sebanding dengan tingkat pertumbuhan pengguna aktifmu.

Penunjuk Arah

Sebagai pendiri startup, kamu bisa menggunakan growth rate itu sebagai penunjuk arah. Anggap ia adalah kompas yang bisa membantumu berjalan di arah yang tepat agar bisa sampai di tujuan. Ia akan memandumu mengambil semua keputusan dalam bisnis—apapun yang kamu perlukan agar bisa mencapai growth rate yang sesuai. Apakah saya harus ikut konferensi 2-3 hari? Apakah saya harus menambah pemrogram? Apakah saya harus lebih fokus pada pemasaran? Cara pemasaran apa yang bisa dilakukan? Pokoknya lakukan apapun yang harus kamu lakukan untuk mencapai target growth rate ini.

Untuk menentukan target pun, mulai dengan angka yang tidak muluk-muluk. Misalnya, 20-25% per bulan. Menilai performa diri sendiri dengan target bulanan seperti ini pun bukan berarti kamu tidak boleh melihat lebih dari satu bulan ke depan. Misalnya ada satu bulan dimana kamu gagal mencapai target, kamu akan tertarik untuk mencari tahu hal-hal apa yang bisa menghindarkanmu dari rasa kecewa dan sedih karena gagal mencapai target di masa depan. Jadi, pemikiranmu dapat lebih terbuka untuk melakukan berbagai opsi yang bisa membantumu mencapai target.

Misalnya dengan mempekerjakan pemrogram untuk membantumu. Ia mungkin tidak akan langsung dapat membantumu mencapai target bulan berikutnya, namun ia dapat mengurangi load pekerjaanmu untuk menambah fitur-fitur baru di produkmu, yang pada akhirnya dapat meningkatkan pengguna di masa depan. Tetapi kamu perlu memperhatikan dua hal:

  1. Distraksi dari proses mencari pegawai tidak akan membuatmu gagal mencapai target di jangka pendek; dan
  2. Kamu terus-terusan khawatir apakah kamu tidak bisa mencapai target jika kamu tidak bisa mempekerjakan seseorang.

Jika ini terjadi padamu, kamu mungkin bisa mempertimbangkan untuk menggunakan penyedia jasa pencari tenaga kerja yang sesuai dengan preferensi dan kebutuhanmu. Saat ini sudah ada cukup banyak jasa seperti ini di Indonesia.

Pemahaman Mendalam

Jika kamu ingin memiliki pemahaman yang mendalam tentang startup, maka yang perlu kamu pahami adalah growth. Ia adalah kekuatan yang mendorong segala sesuatu di dunia ini—tidak hanya startup. Itulah kenapa startup lebih banyak fokus di teknologi, karena ia lebih mudah menjangkau pasar yang besar dengan sangat cepat dibandingkan sektor-sektor yang lain.

Pertumbuhan adalah alasan mengapa mendirikan startup adalah pilihan yang rasional secara ekonomi—karena ia mampu untuk menciptakan perusahaan yang bervaluasi tinggi walaupun resikonya juga tinggi.

Pertumbuhan adalah alasan mengapa banyak startup sukses seperti Atlassian pun tetap mengambil investasi dari pemodal ventura, agar supaya ia dapat memilih tingkat growth rate yang sesuai dalam kondisi yang nyaman (baca: tidak khawatir kehabisan uang saat sedang dalam mode tancap gas).

Dan pertumbuhan jugalah yang menjadi alasan mengapa startup yang sukses hampir selalu mendapatkan penawaran akuisisi. Bagi para pengakuisisi, perusahaan yang tumbuh dengan sangat cepat itu tidak hanya berharga, namun juga berbahaya. Sehingga, ada dua kemungkinan alasan akuisisi ini dilakukan:

  1. Integrasi ke perusahaan pengakuisisi agar menjadi semakin besar, dan
  2. Untuk dimatikan sebelum bertambah besar dan jadi pesaing.

Memahami pertumbuhan adalah langkah awal membangun startup yang sukses. Jika kamu belum memahami itu saat sedang membangun startup, kamu belum terlambat. Hal-hal lain yang kamu kerjakan jika tidak ada hubungannya dengan pertumbuhan, harus dikesampingkan. Karena hanya dengan memiliki pertumbuhan yang baik yang dapat mengantarkanmu pada kesuksesan—dan mungkin exit kaya raya. 😂

Semoga sukses!

Sampai disini, semoga kamu paham, ya! Jika tidak, kamu bisa bergabung di komunitas Telegram kami dan bertanya lebih lanjut. Semoga sukses!